GEM kemudian mengusulkan pendirian laboratorium bersama dengan melibatkan ITB dan CSU. Ketiga pihak menyepakati kerja sama tersebut, dan pembangunan laboratorium diselesaikan sekitar empat bulan setelah proses persiapan.
Profesor Zaki mengatakan pengalaman bekerja dengan tim Tiongkok menunjukkan pentingnya disiplin dan komitmen dalam pelaksanaan proyek.
βSaya merasakan tingkat disiplin mereka yang tinggi dan komitmen mereka untuk menepati janji,β kata Zaki.
Kerja sama pendidikan yang dikembangkan GEM di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak 2019. Saat itu, perusahaan tersebut memperluas investasinya di bidang pengolahan bijih nikel laterit menggunakan teknologi hidrometalurgi untuk menghasilkan material energi baru.
Dalam proses pengembangan usaha, Xu menemukan kebutuhan tenaga ahli metalurgi di Indonesia belum sepenuhnya terpenuhi, sementara kapasitas pendidikan dan pelatihan dinilai belum sejalan dengan kebutuhan industri.
Xu, yang sebelumnya merupakan profesor di Fakultas Pertambangan dan Metalurgi CSU, kemudian mendorong program pendidikan magister bagi lulusan perguruan tinggi Indonesia.
Pada Maret 2019, GEM meluncurkan program pelatihan bersama dengan melibatkan CSU dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan Indonesia.
Lulusan sarjana yang memenuhi persyaratan diseleksi bersama oleh ketiga pihak untuk melanjutkan studi magister di CSU. LPDP menanggung biaya kuliah dan biaya terkait pada tahun pertama, sedangkan GEM membiayai dua tahun berikutnya.
Kelompok pertama program tersebut terdiri atas 22 mahasiswa Indonesia.
Pelaksanaannya menghadapi kendala ketika pandemi COVID-19 membatasi perjalanan internasional. Mahasiswa yang semula menjalani perkuliahan di Tiongkok harus melanjutkan sebagian besar pembelajaran teori secara daring dan tidak dapat kembali ke kampus untuk mengikuti kegiatan eksperimen.
Untuk menjaga keberlanjutan program, GEM menyediakan peralatan pengajaran dan instrumen pengujian di fasilitas produksinya yang sedang dibangun di Sulawesi. Mahasiswa kemudian menjalani sebagian kegiatan eksperimen dan magang di fasilitas tersebut.
Program itu berlanjut dengan jumlah peserta yang meningkat dan bidang studi yang meluas, mencakup metalurgi, transportasi kereta api, dan perdagangan internasional.
Wakil Manajer Umum GEM sekaligus Sekretaris Jenderal Tiongkok di Laboratorium Bersama Xu Pengyun mengatakan program tersebut telah melatih 341 mahasiswa magister Indonesia. Empat lulusan di antaranya melanjutkan pendidikan doktoral di Tiongkok.
Ia mengatakan pada 2026 program itu direncanakan menerima lebih dari 70 mahasiswa, sementara jumlah pendaftar melampaui 1.000 orang.
βProgram ini sepenuhnya memanfaatkan kekuatan semua pihak, melakukan kerja sama universitas-perusahaan yang mendalam, membina talenta lokal yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan, dan mencapai pengembangan terpadu pendidikan, teknologi, dan talenta,β kata Dekan Pascasarjana CSU Sun Wei.v
Pelatihan bahasa dan adaptasi budaya