Selain pendidikan akademik, program tersebut mencakup pelatihan bahasa Mandarin untuk membantu mahasiswa Indonesia beradaptasi dengan lingkungan pendidikan dan kehidupan di Tiongkok.

Setelah menyelesaikan tahun pertama studi magister, mahasiswa mengikuti pelatihan intensif bahasa Mandarin selama tiga setengah bulan di Pusat Pelatihan Internasional Kampus GEM Jingmen, Tiongkok.

Pelatihan itu mencakup pembelajaran di kelas, praktik percakapan, serta kegiatan kebudayaan. Mahasiswa juga berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat untuk mempraktikkan bahasa Mandarin dalam situasi sehari-hari.

GEM menyebut tingkat kelulusan peserta dalam ujian kemampuan bahasa Mandarin HSK Level 4 pada dasarnya mencapai 100 persen.

Fajar Bayu Ajiriyanto, yang kini bekerja di Laboratorium Bersama, mengatakan pelatihan tersebut membantunya meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin sebelum bekerja di lingkungan yang melibatkan tenaga kerja Indonesia dan Tiongkok.

Menurut Fajar, perbedaan budaya dan sistem pendidikan menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa Indonesia ketika pertama kali menempuh studi di Tiongkok. Namun, proses adaptasi selama pendidikan membantunya memahami lingkungan akademik dan pekerjaan.

Xu Pengyun mengatakan setiap mahasiswa mendapatkan mentor khusus dan diwajibkan mengirimkan laporan perkembangan studi setiap pekan. Mekanisme tersebut tetap dijalankan selama pembelajaran daring pada masa pandemi.

Ia menambahkan, GEM berharap sebagian lulusan dapat bergabung dengan perusahaan, tetapi tidak mewajibkan mereka bekerja di sana setelah menyelesaikan pendidikan.

Sejumlah lulusan memilih bekerja di GEM, sementara lainnya melanjutkan studi doktoral di Tiongkok.

GEM menargetkan pengembangan sumber daya manusia Indonesia melalui program yang disebut β€œRencana Seratus, Seribu, dan Sepuluh Ribu”. Hingga 2035, perusahaan tersebut menargetkan membantu menyiapkan 100 doktor, 1.000 lulusan magister, dan 10.000 pekerja terampil bagi Indonesia.

Program tersebut dirancang untuk menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri, mulai dari tingkat sarjana dan pascasarjana hingga pelatihan tenaga kerja.

Xu mengatakan lulusan program telah menunjukkan kemampuan dalam menjalankan peralatan industri, melakukan penelitian, serta mengembangkan karya ilmiah dan paten lokal.

Menurut dia, kerja sama antara perusahaan dan perguruan tinggi dapat menjadi sarana pertukaran teknologi, pengetahuan, bahasa, dan budaya antara Indonesia dan Tiongkok.

Ia menilai pengalaman pendidikan di luar negeri juga dapat membantu lulusan berperan dalam membangun komunikasi di lingkungan kerja yang melibatkan kedua negara.

Melalui laboratorium bersama dan program pendidikan tersebut, kerja sama Indonesia-Tiongkok diarahkan tidak hanya pada penyediaan fasilitas riset, tetapi juga pada pengembangan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk mendukung industri pengolahan mineral dan material energi baru di Indonesia, demikian Xinhua.