Sebab, kebijakan pembangunan nasional sering kali memicu ketegangan di akar rumput akibat terabaikannya nilai lokal dan sensitivitas warga. Lewat dialog berkala bersama para tokoh agama di dewan pertimbangan, Istana dapat menangkap denyut nadi masyarakat secara lebih jernih, tanpa tersaring oleh laporan birokrasi formal yang kerap kali jauh dari realitas lapangan.
Jika benar demikian, pendekatan interaktif ini lambat laun dapat menghaluskan gesekan dalam komunikasi publik, mengganti retorika sektoral dengan narasi yang menenangkan.
Keberadaan tokoh berlatar belakang korporasi dan manajemen papan atas diharapkan mampu memberikan sudut pandang baru dalam membenahi kerapuhan eksekusi di tataran operasional. Selama ini, gagasan besar di tingkat pusat kerap kandas atau memicu kegaduhan akibat kecerobohan teknis di lapangan.
Kasus seperti dinamika program Makan Bergizi Gratis (MBG) βyang dirancang untuk meningkatkan gizi generasi muda namun sempat diwarnai insiden keracunan di sejumlah daerah akibat lemahnya pengawasan sanitasi rantai pasokβ menjadi bukti nyata betapa lebarnya jarak antara visi strategis dan realitas pelaksanaan.