"Orang-orang tidak berbelanja seluruh kebutuhan sehari-hari mereka di toko seperti Meadow Lane, tetapi mereka datang untuk membeli produk yang muncul di media sosial," ujar Grimes.

Ia mencontohkan chicken nugget dari Meadow Lane dan Dot Cake yang dijual Butterfield Market. Menurutnya, banyak produk di supermarket mewah sebenarnya serupa, bahkan identik, dengan barang yang tersedia di supermarket biasa. Perbedaannya terletak pada penyajian yang lebih bergaya dan menarik.

Popularitas Dot Cake bahkan membuat Butterfield Market yang sudah berusia 100 tahun dipadati pembeli pada Mei lalu. Kue dalam wadah seharga $11 (Rp194 ribu) itu dihiasi sprinkle warna-warni. Ratusan video di media sosual memperlihatkan pelanggan mengantre lebih dari satu jam untuk mencicipinya.

Food vlogger ternama asal Amerika, Sister Snacking, turut mencoba dot cake varian red velvet, vanilla, dan cokelat. Mereka menilai kue tersebut memiliki rasa seperti buatan rumahan, tetapi cenderung terlalu manis dan sebenarnya mudah dibuat sendiri.

Bagi sebagian pengunjung, daya tarik supermarket mewah ini memang bukan hanya soal rasa. Datang ke tempat populer, mencoba makanan viral, lalu mengunggahnya ke media sosial menjadi bagian dari pengalaman.

"Ini merupakan contoh lain ketika orang ingin mengatakan bahwa mereka pernah datang ke tempat populer, mencoba makanan khas yang viral, mengunggahnya ke media sosial, dan memamerkannya," pungkas Grimes.