NADIKABAR.COM — Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memastikan kerja sama penegakan hukum antara Indonesia dan China tidak akan berhenti pada pengungkapan laboratorium rahasia (clandestine lab) 1,2 ton sabu di Aceh. Dia menegaskan operasi bersama akan terus berlanjut mengusut target-target lainnya.

Hal tersebut ditegaskan Suyudi usai menggelar pertemuan dengan Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Pengendali Narkotika Tiongkok (NNCC), Lan Weihong.Pertemuan digelar tertutup di Gedung Utama, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).

"(Kerja sama dengan China) akan berlanjut, karena masih ada target-target lain," kata Suyudi kepada wartawan.

Suyudi menyampaikan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kolaborasi yang telah berhasil membongkar jaringan laboratorium rahasia di Pidie, Aceh. Pengungkapan kasus tersebut, kata Suyudi, merupakan hasil operasi bersama berbagai instansi di Indonesia dengan dukungan otoritas China.

"Tentunya kolaborasi ini akan terus kita tingkatkan dalam rangka keamanan di Indonesia dan juga di beberapa wilayah yang ada di sekitar kawasan Asia," jelas Suyudi.

Dia menegaskan pemerintah Indonesia serius memberantas peredaran narkotika di tanah air. "Untuk itu, kami, pemerintah Indonesia, Polri dalam hal ini, menyampaikan bahwa kita sangat serius untuk melakukan upaya pemberantasan narkotika di Indonesia. Dan kami juga akan senantiasa mendukung pemerintah Tiongkok dalam rangka mengungkap jaringan besarnya," lanjutnya.

Saat ini, penyidik masih terus mendalami pihak-pihak lain yang terlibat dalam kasus di Aceh, termasuk penyandang dana hingga jaringan lainnya. "Dan kami saat ini masih melakukan pengembangan terhadap kasus yang ada di Aceh ini, terhadap para pendukung ya, para pendana," ungkap Suyudi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal NNCC Tiongkok Lan Weihong memaparkan awal mula penyelidikan sindikat penyelundupan narkotika cair lintas negara tersebut. Penyelidikan, kata dia, telah dilakukan sejak tahun lalu.

"Pada bulan Oktober tahun 2025, pihak pengendalian narkotika di Tiongkok menemukan clue yang penting dari satu kelompok kejahatan yang terkait dengan penyelundupan narkotika yang cair di daerah Myanmar, Thailand, dan Laos," tutur Lan Weihong.

"Dan ini salah satu kasus penyelundupan lintas negara yang sangat besar. Dan dengan penyelidikan selama satu tahun yang intensif, memang kami sudah mengetahui kondisi kelompok kejahatan ini sudah mengirimkan narkotika cair dari daerah Myanmar, Thailand, Laos, sudah beberapa kali melakukan penyelundupan dan pengiriman ke Indonesia," sambungnya.

Informasi dari hasil penyelidikan tersebut kemudian dikoordinasikan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia. Kemudian disepakati kerja sama memberantas tindak pidana narkotika lintas negara.

"Dan pada bulan September tahun ini, NNCC Tiongkok sudah melaporkan informasi tersebut kepada BNN Indonesia. Dan kedua belah pihak menentukan melakukan kerja sama itu bisa bersama-sama memberantas tindak pidana narkotika lintas negara," terang Lan Weihong.

Lan Weihong menyebut pengungkapan sindikat ini sebagai salah satu operasi skala besar yang berhasil memutus mata rantai kejahatan narkotika.

"Kasus ini adalah kasus penyelundupan narkotika yang sangat besar yang ditangani pihak Tiongkok bersama negara lain, dengan tersangka penangkapan terbanyak dan pemutusan rantai kejahatan yang terutuh," tutur Lan Weihong.

Dia menekankan pentingnya komunikasi bilateral dan pertukaran informasi intelijen yang telah terjalin antara Tiongkok dan Indonesia dalam pengungkapan kasua ini.

"Memang dengan mekanisme komunikasi bilateral yang selama ini kita selalu saling berbagi informasi intelijen dan melakukan operasi gabungan, ini terus memberantas jaringan penyelundupan dan pengiriman narkotika antarnegara dan ini mencapai hasil yang nyata," pungkasnya.