Media setempat melaporkan siswa di setidaknya dua sekolah di Azerbaijan melakukan boikot kelas sebagai bentuk protes terhadap pembatasan tersebut. Jurnalis yang sedang dipenjara, Polad Aslanov, yang menjalani hukuman penjara 113 tahun setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi, juga ikut melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes terhadap aturan baru tersebut.
"Meski berada di dalam penjara, saya menyuarakan penolakan terhadap pelanggaran hak-hak konstitusional kami dengan menggunakan satu-satunya cara perjuangan yang bisa saya lakukan, yaitu mogok makan!" ujar Aslanov dalam sebuah pesan yang diunggah di Facebook oleh istrinya, Gulmira Aslanova.
Kampanye media sosial yang diikuti dengan aksi protes juga merambah ke Turki. Sebagian pihak melihat adanya kemiripan antara situasi di Azerbaijan ini dengan peristiwa 'kudeta pascamodern' di Turki pada tahun 1997 ketika perempuan yang mengenakan jilbab dilarang mengikuti perkuliahan di universitas serta diberhentikan dari pekerjaan mereka sebagai pegawai negeri atau dipaksa untuk mengundurkan diri.
Pekan lalu, para pengunjuk rasa berkumpul di depan konsulat Azerbaijan di Istanbul untuk memprotes pembatasan yang berdampak pada perempuan Muslim. Mereka mendesak pihak berwenang di Baku untuk meninjau kembali keputusan tersebut.
Pemerintah Azerbaijan mengubah aturan seragam sekolah yang secara tak langsung melarang penggunaan hijab di sekolah. Apa alasan di balik larangan itu?