Namun, ia juga mengingatkan pengembangan industri gim harus disertai pendampingan, literasi digital, etika penggunaan teknologi, keamanan internet serta pengelolaan waktu.
Menurutnya, pemerintah desa, komunitas, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan perlu membuka ruang belajar dan kolaborasi agar anak muda memiliki akses untuk mengembangkan kemampuan.
"Teknologi jangan sampai menjauhkan anak muda dari desanya. Justru teknologi harus menjadi jembatan untuk memperkenalkan potensi lokal dan menciptakan peluang baru. Kita ingin membuktikan bahwa kreativitas dan karya bernilai ekonomi juga bisa lahir dari Trenggalek," kata Novita.