"Data yang baik harus berujung pada kebijakan yang tepat. Pemerintah harus dapat mengetahui siapa yang membutuhkan pelatihan, kompetensi apa yang diperlukan, dan sejauh mana pelatihan tersebut membuka kesempatan kerja atau usaha," ujarnya.

Pemerintah saat ini menargetkan lebih dari 21 ribu peserta untuk mengikuti Program Pendidikan Kecakapan Kerja dan Wirausaha pada 2026. Sasaran utamanya mencakup anak usia sekolah yang putus pendidikan serta kelompok masyarakat pengangguran.

Lestari menilai pendidikan nonformal memegang peran strategis di tengah tingginya angka pekerja berpendidikan dasar. Data Badan Pusat Statistik per Mei 2026 mencatat sebagian besar dari 148,19 juta penduduk bekerja masih berpendidikan menengah ke bawah.

"Kondisi ini menjadi pengingat, peningkatan kualitas manusia tidak dapat hanya mengandalkan jalur pendidikan formal. Negara harus menyediakan kesempatan belajar sepanjang hayat yang mudah dijangkau, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," kata Rerie.