Rerie menilai tantangan generasi muda bukan hanya terkait kesempatan ekonomi, tetapi juga kemampuan menjaga nalar kebangsaan di tengah derasnya arus informasi. Karena itu, nilai patriotik, gigih, dan berempati yang diusung dalam tema tahun ini perlu diterjemahkan menjadi kebijakan terukur, bukan sekadar imbauan moral.

"Belajar dari Sumpah Pemuda 1928, gagasan besar lahir dari para pemuda. Generasi hari ini harus mampu berperan aktif menentukan arah pembangunan, bukan sekadar menonton," kata Anggota Komisi X DPR RI tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan karakter kebangsaan sejak dini. Menurutnya, kemampuan teknologi yang dimiliki pemuda perlu diarahkan untuk membangun persatuan dan memperkuat budaya bangsa, bukan memperlebar jurang perpecahan.

Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Jawa Tengah itu turut mendorong kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan keluarga dalam merancang kebijakan kepemudaan yang berbasis data serta berdampak nyata.

Menurut Rerie, pendekatan seremonial tidak cukup untuk menjawab persoalan konkret, seperti pengangguran pemuda dan ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja.