"Kebijakan kepemudaan harus berpihak pada kebutuhan nyata. Bukan hanya program yang terdengar bagus di atas kertas, tetapi yang bisa dirasakan manfaatnya oleh pemuda di seluruh Indonesia," ujarnya.

Rerie mengatakan Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan bukanlah keseragaman, melainkan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Nilai tersebut dinilainya semakin relevan di tengah masyarakat yang terbuka dan beragam.

"Pemuda yang patriotik adalah yang mampu mencintai bangsanya dengan cara bekerja sungguh-sungguh, berpikir kritis, dan peduli pada sesama. Itu wujud Sumpah Pemuda hari ini," kata Rerie.

Peringatan ke-98 tahun Sumpah Pemuda, menurutnya, menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa persatuan bukan warisan yang selesai, melainkan tugas yang harus dirawat setiap generasi.

"Sumpah Pemuda bukan milik generasi 1928 saja. Ia milik setiap generasi yang bersedia menjaganya," pungkas Rerie.