"Perubahan nama Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia merupakan bagian dari penajaman identitas dan orientasi pengelolaan. Keris menjadi fokus utama yang diangkat melalui penyajian koleksi dan informasi, sehingga karakter museum lebih jelas dan pesan edukasinya dapat disampaikan secara terarah kepada pengunjung," jelas Restu Gunawan.

Restu Gunawan juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola Taman Mini Indonesia Indah, para Mpu Keris, dan komunitas perkerisan.

"Kami berharap museum ini dapat terus dikembangkan menjadi lembaga yang dikelola secara profesional, terbuka terhadap kolaborasi, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pelindungan serta pemajuan kebudayaan Indonesia," tutur Restu Gunawan.

Melalui revitalisasi dan peresmian nama baru Museum Keris Indonesia, diharapkan dapat terus terjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, maupun masyarakat. Dengan tata kelola yang baik dan kerja sama yang berkelanjutan, museum dapat berkembang menjadi institusi yang memberikan manfaat lebih luas bagi pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat.

Sebagai informasi tambahan, turut hadir dalam peresmian museum, antara lain Plt Direktur Operasi PT Bumi Visatanda Indonesia, Ratri Paramita; para empu dan maestro keris, budayawan, dan komunitas perkerisan Nusantara. Hadir mendampingi Fadli Zon, yakni Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud), Giring Ganesha Djumaryo; Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra.

Selanjutnya, turut hadir pula Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Penasihat Menteri Kebudayaan Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum, Putu Supadma Rudana; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estianty Nurjadin; dan jajaran pejabat Kemenbud.