Gunung Kelud kembali mengalami erupsi besar pada 1641 dengan VEI 4. Letusan menghasilkan ledakan dan material vulkanik dalam jumlah besar serta memicu aliran lahar. Erupsi tersebut juga tercatat menyebabkan kerusakan di wilayah sekitar Gunung Kelud.

Pada 16 Januari hingga 10 Februari 1817, Gunung Raung mengalami erupsi yang tercatat memiliki VEI 4. Aktivitas vulkanik berupa ledakan dan hujan abu disertai aliran lahar yang berdampak pada wilayah sekitar gunung. GVP mencatat erupsi ini menyebabkan kerusakan properti dan korban jiwa.

Gunung Kelud kembali meletus pada 11-25 Oktober 1826 dengan VEI 4. Erupsi menghasilkan ledakan, aliran piroklastik, abu dalam jumlah besar, serta lahar. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.

Salah satu erupsi Gunung Kelud yang paling mematikan terjadi pada 19-20 Mei 1919 dengan VEI 4. Letusan menghasilkan lahar dalam jumlah besar yang menerjang kawasan di sekitar gunung dan menyebabkan kerusakan luas.

Lebih dari 5.000 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Erupsi Gunung Kelud 1919 juga menghancurkan lebih dari 100 desa, sehingga menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah mitigasi bencana Gunung Kelud.

Gunung Kelud kembali mengalami erupsi pada 31 Agustus 1951 dengan VEI 4. Letusan menghasilkan aliran piroklastik, abu, lapili, bom vulkanik, serta lahar. Erupsi tersebut menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.

Pada 26-27 April 1966, Gunung Kelud kembali meletus dengan VEI 4. Erupsi menghasilkan aliran piroklastik, abu, lapili, bom vulkanik, serta lahar yang berdampak pada kawasan di sekitar gunung.