Namun, realisasi 'jembatan' antariksa ini menghadapi tantangan teknis yang berat, terutama pada material kabel. Kabel tersebut harus memiliki kekuatan tarik yang melampaui baja, namun dengan bobot yang sangat ringan agar tidak runtuh akibat gravitasi.
Graphene telah lama diidentifikasi sebagai material kandidat utama karena struktur atom karbonnya yang tipis namun sangat kuat. Fokus saat ini beralih pada graphene polikristalin, yang terdiri dari butiran kristal yang saling terhubung, sehingga lebih memungkinkan untuk diproduksi dalam skala besar.
Kebutuhan material ini sangat masif. Berdasarkan konsep ISEC, kabel lift bisa mencapai panjang 100.000 kilometer. Kemajuan signifikan dilaporkan datang dari Korea Selatan, di mana para insinyur berhasil memproduksi graphene polikristalin sepanjang 1.000 meter dengan lebar setengah meter. Meski masih jauh dari target puluhan ribu kilometer, kemampuan produksi massal ini menjadi tonggak penting bagi para pendukung proyek ini.
Setelah kabel terpasang, perjalanan menuju orbit geostasioner diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu. Namun, setelah melewati titik GEO, kendaraan akan mendapatkan keuntungan dari momentum rotasi Bumi. Energi ini dapat dimanfaatkan untuk melontarkan muatan menuju ruang angkasa dengan kecepatan tinggi.
Dampaknya terhadap logistik antariksa akan sangat revolusioner. ISEC mengalkulasi bahwa muatan yang dilepaskan dari lift luar angkasa dapat mencapai Bulan hanya dalam waktu 14 jam-jauh lebih cepat dibandingkan teknologi roket saat ini yang membutuhkan waktu berhari-hari. Untuk misi ke Mars, durasi perjalanan dapat dipangkas menjadi 61 hingga 120 hari, tergantung pada posisi planet.