NADIKABAR.COM — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) optimistis target produksi minyak siap jual (lifting) tahun ini sebesar 610.000 barel per hari (bph) dapat tercapai, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan.

Berdasarkan materi paparan Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti, lifting minyak dan kondensat saat ini mencapai 578.600 barel per hari (BOPD). Angka tersebut setara dengan sekitar 95% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

"Ini tentunya masih ada sisa waktu 2 bulan, kami optimis melalui beberapa skenario lifting yang baru tentunya akan terus diupayakan untuk mendekatkan kepada target lifting 2026 tersebut," ujar Desti di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Desti mengatakan salah satu tantangan dalam produksi migas saat ini adalah penurunan produksi alamiah atau natural decline di sejumlah lapangan migas di Tanah Air.

Karena itu, diperlukan upaya untuk menahan laju penurunan produksi melalui kegiatan pengeboran secara masif.

"Oleh karena itu tantangan terbesar adalah bagaimana kita berusaha untuk menekan penurunan natural decline yang terlalu tajam melalui kegiatan masif pengeboran. Dan tentunya ini menjadi kontribusi utama kegiatan hulu migas yang akan memberikan dampak terhadap peningkatan dari investasi hulu migas," katanya.

Untuk mendorong peningkatan lifting, Desti menilai kepastian hukum, investasi, dan fiskal menjadi faktor penting. Kepastian tersebut dibutuhkan untuk menarik investasi serta mendorong investor melakukan eksplorasi guna menemukan cadangan migas baru.

Menurutnya, upaya mencapai target produksi nasional juga perlu didukung strategi komersialisasi yang adaptif. Pendekatan yang digunakan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola konservatif, tetapi perlu mempertimbangkan berbagai skenario strategis untuk mengoptimalkan penerimaan negara.

"Dan tentunya kegiatan komersialisasi tersebut tidak lepas dengan adanya akuntabilitas dan tata kelola yang terus kita pertahankan secara berkesinambungan. Oleh karena itu peran skema pembiayaan dalam merangsang kegiatan tersebut perlu dan terus diupayakan untuk dapat menciptakan sinergi dalam memastikan bahwa kegiatan itu bisa berjalan dengan baik," terangnya.