Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi volume LPG 3 kg pada 2025 mencapai 8,52 juta metrik ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuota APBN yang ditetapkan sebesar 8,17 juta metrik ton.

Sementara pada 2024, realisasi LPG 3 kg mencapai 8,23 juta metrik ton, juga melampaui kuota APBN sebesar 8,03 juta metrik ton.

Adapun kuota LPG 3 kg pada 2026 ditetapkan sebesar 8 juta metrik ton. Pemerintah memprediksi konsumsi hingga akhir tahun dapat mencapai sekitar 8,6 juta metrik ton.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk menata kembali distribusi LPG 3 kg.

Pemerintah sebenarnya telah melakukan transformasi distribusi LPG 3 kg sejak Maret 2023.

Pada tahap awal, dilakukan pendataan pengguna LPG tabung 3 kg ke dalam sistem berbasis web. Selanjutnya, pemerintah melakukan pemadanan data untuk menentukan sasaran pengguna LPG tertentu.

Dalam proses penguatan data tersebut, Pertamina juga telah melakukan nota kesepahaman atau MoU dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Data tersebut nantinya diharapkan dapat membantu pemerintah menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran subsidi LPG 3 kg.

Selain menata penerima LPG 3 kg, pemerintah juga tengah menguji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai salah satu upaya menekan konsumsi LPG 3 kg.

Laode mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan uji coba sebanyak 17 tabung CNG di Lemigas.

Uji coba tersebut akan dievaluasi untuk melihat kinerja tabung sebelum kemungkinan diterapkan lebih luas kepada masyarakat.

Jadi, bagi masyarakat yang bertanya "desil berapa yang bisa beli LPG 3 kg?", jawabannya untuk saat ini belum ada batas desil final yang diumumkan pemerintah. Masyarakat perlu menunggu aturan resmi mengenai kelompok penerima LPG 3 kg sebelum mengetahui secara pasti siapa yang masih berhak membeli gas bersubsidi tersebut.