NADIKABAR.COM — LPG Plant Cilamaya di Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat resmi beroperasi. Fasilitas pengolahan gas bumi dengan investasi US$ 36,93 juta atau Rp 664 miliar (kurs Rp 18.000) ini ditargetkan memperkuat pasokan LPG domestik, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

President Director PT Energi Nusantara Perkasa sekaligus Leader Kerja Sama Operasi (KSO) PT ENP-PT EAJ, Sardjono, menegaskan bahwa beroperasinya LPG Plant Cilamaya merupakan bukti nyata kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha dalam mempercepat hilirisasi gas bumi nasional.Menurut Sardjono, investasi di sektor hilir migas tidak sekadar membangun infrastruktur energi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi, meningkatkan daya saing industri nasional, dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan."Keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh keberanian untuk mengolahnya menjadi nilai tambah bagi rakyat," ujar Sardjono dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).

LPG Plant Cilamaya dibangun dengan kapasitas pengolahan gas terpasang sebesar 40 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD). Fasilitas ini diselesaikan dalam waktu 13 bulan.Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi LPG sebesar 160 ton per hari atau setara 52.800 ton per tahun. Selain itu, kilang mampu menghasilkan kondensat sebesar 320 barel per hari atau setara 105.600 barel per tahun.

Pasokan gas bumi berasal dari Lapangan PHE Offshore North West Java (PHE ONWJ), berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan jangka waktu sembilan tahun dan komitmen pasokan sebesar 37 MMSCFD. Sementara itu, lean gas atau gas sisa hasil pemisahan dikembalikan kepada PHE ONWJ untuk dimanfaatkan lebih lanjut.

Pembangunan fasilitas dilaksanakan oleh PT Pacific Process Engineering (PPE) sebagai kontraktor engineering, procurement, construction, and installation (EPCI), dengan dukungan teknologi proses yang dikembangkan di dalam negeri.

Besarnya ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Kondisi geopolitik global yang tidak menentu semakin mempertegas pentingnya optimalisasi sumber daya energi dalam negeri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kebutuhan LPG Indonesia mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi domestik berada pada kisaran 1,8 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta hingga 8 juta ton LPG setiap tahun.Bahlil juga menekankan besarnya konsekuensi ekonomi dari ketergantungan tersebut, termasuk kebutuhan devisa untuk impor dan beban subsidi energi. Oleh karena itu ia menilai kapasitas produksi 160 ton per hari merupakan kontribusi penting, terutama bagi pemenuhan kebutuhan energi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

Pengembangan LPG Plant Cilamaya ditopang pengalaman PT ENP selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan dan pengoperasian fasilitas pengolahan LPG di Indonesia.Saat ini, PT ENP juga mengoperasikan LPG Plant Gresik dengan kapasitas pengolahan gas sebesar 100 MMSCFD. Fasilitas tersebut mengolah gas bumi dari Lapangan PHE West Madura Offshore (WMO) dan Lapangan Poleng menjadi LPG dan kondensat.

Pengalaman operasional tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk mengembangkan dan mengoperasikan LPG Plant Cilamaya dengan memperhatikan aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, dan praktik terbaik industri minyak dan gas bumi.

Selain berkontribusi terhadap sektor energi, pembangunan LPG Plant Cilamaya juga melibatkan sekitar 200 tenaga kerja serta mendorong aktivitas industri pendukung dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat dan sekitarnya.