Menguji Keterampilan dalam Skenario Nyata
HIDC menantang peserta melewati delapan tahap yang menguji lebih dari sekadar kemampuan menemukan celah pada sistem digital. Tantangannya mencakup pengamanan fisik seperti membuka gembok dan brankas, penggunaan software-defined radio (SDR), pengujian serangan melalui pendekatan red team, serta respons pertahanan melalui pendekatan blue team.
Menurut Royke, skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman Spentera menangani kebutuhan keamanan siber klien. Dengan demikian, peserta berlatih membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan seperti yang dibutuhkan dalam pekerjaan keamanan siber. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp170 juta.
"Harapan kami, peserta tidak berhenti sebagai pemenang kompetisi. Mereka bisa berkembang menjadi cyber security engineer yang mampu membangun keamanan cyber yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia, bahkan negara, dan mampu bersaing di pasar global. Tak hanya itu, kami juga ingin kompetisi HIDC 2026 di Balige, Sumut, dapat mendorong distribusi talenta-talenta cyber security agar tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Semoga ke depan pasar global tidak lagi mencari talenta teknologi informasi ke India, tapi ke Indonesia," ungkap Royke.
Kerja Sama Mendekatkan Kampus dengan Kebutuhan Industri
Pemilihan Institut Teknologi Del (IT Del) sebagai lokasi grand final kompetisi hacker HIDC 2026 ditujukan untuk mendorong lahirnya talenta-talenta muda keamanan siber. IT Del memiliki fokus studi di bidang artificial intelligence. Upaya ini dikuatkan dengan penandatanganan kerja sama riset, inovasi, dan program magang antara IT Del dan Spentera Group.
Penandatanganan kerja sama dengan Spentera Group menjadi langkah lanjutan untuk menghubungkan penelitian dan pengembangan kapasitas dengan kebutuhan industri. Sebelumnya, Spentera juga bekerja sama dalam riset keamanan siber dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.