Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. Asap dari api itu, ungkap dia, akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan dalam gua. Seperti selimut hitam menutupi detail lukisan.

"Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya," paparnya menjelaskan.

Hal mengkhawatirkan adalah fakta upaya konservasi selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel, bahkan telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua.

Aturan itu dibuat bukan tanpa alasan, selain untuk mencegah kerusakan fisik, tujuannya mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua pada situs tersebut. Bahkan suhu tubuh manusia pun dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan dalam jangka panjang.