"Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran. Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua," kata Basran menegaskan.
Sebab, Kawasan Maros-Pangkep bukan sekadar hutan biasa, tetapi galeri seni terbuka tertua di dunia. Pada dinding-dinding gua kapur itu, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan berusia lebih dari 45.000 tahun, mendahului lukisan terkenal di Eropa seperti di Lascaux, Prancis.
Dampak kebakaran di kawasan Taman Nasional itu tidak hanya merusak vegetasi pada erea karst hingga puncaknya, tapi tutur berdampak pada habitat satwa endemik dilindungi maupun keanekaragaman hayati di wilayah setempat.
Kepala Balai Taman Nasional Buntimurung-Bulusaraung Abdul Rajab menyebutkan, luas lahan yag hangus terbakar pada Senin (12/10) mencapai 34,74 haktare hingga meningkat pada Kamis (15/10) seluas 93,43 hektare. Informasi awal kebakaran di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Pangkep, Minggu (11/10) pukul 21.00 WITA.