Jadi kesimpulannya: bukan berarti ludah itu tidak berisiko, tapi secara skala dan jenis bahaya, kontaminasi feses jelas berada di level yang jauh lebih serius baik dari sisi jumlah patogen, luas penyebaran, maupun kemungkinan penularan ke banyak orang sekaligus.
Menurut standar Bloodborne Pathogens dari Occupational Safety and Health Administration (OSHA) badan keselamatan kerja Amerika Serikat material yang tergolong berisiko biologis (ditandai simbol biohazard) mencakup darah manusia serta cairan tubuh dan jaringan tertentu yang berpotensi mengandung patogen menular. Dalam dunia kesehatan dan keselamatan kerja, material seperti ini wajib diberi label khusus dan punya protokol penanganan tertentu: harus diisolasi, dibersihkan dengan prosedur khusus, dan tidak dibiarkan kontak dengan orang lain sampai area tersebut disterilkan.
Menariknya, secara teknis regulasi OSHA, saliva hanya dianggap berisiko biologis resmi dalam konteks prosedur gigi. Di luar itu, termasuk ludah yang keluar saat berolahraga atau berbicara, tidak otomatis masuk kategori biohazard resmi. Feses pun demikian, dikecualikan dari kategori tersebut kecuali terlihat bercampur darah.
Tapi di luar soal klasifikasi formal itu, dari sisi kesehatan masyarakat keduanya tetap berisiko menyebarkan penyakit: ludah bisa membawa patogen saluran napas, sementara feses dikenal sebagai media transmisi fecal-oral yang justru lebih agresif bisa membawa bakteri seperti E. coli dan Salmonella.
Di kasus HYROX Beijing, organizer dalam pernyataan resminya memang merespons dengan mengisolasi dan mendisinfeksi area yang terdampak pada hari yang sama. Namun race atlet yang bersangkutan tidak dihentikan maupun didiskualifikasi meski lantai sudah tercemar sementara peserta lain tetap harus melintasi area sebelum proses pembersihan tuntas dilakukan.
Jadi ketika netizen menyebut ini "biohazard", mereka sebenarnya menyoroti gap di level aturan HYROX sendiri, bukan soal klasifikasi OSHA. HYROX sudah punya aturan detail dan sanksi otomatis untuk pelanggaran kecil seperti meludah, tapi belum punya protokol jelas soal kapan sebuah race harus dihentikan atau atlet didiskualifikasi saat terjadi kontaminasi biologis skala besar akibat kondisi medis darurat.