NADIKABAR.COM — Jerit dan tangis anak-anak Gaza, Palestina, yang tidak berdaya di antara reruntuhan gedung dan desing peluru, telah berubah menjadi jeritan massal di seluruh dunia, lintas generasi, dan budaya. Anak-anak dengan kakinya yang kecil, wajah ketakutan, berdarah, lari secepat mereka bisa. Ada yang sempat menoleh, ada yang didahului peluru.

Ibu dan ayah anak-anak itu sama saja. Berlari menghindari kematian yang ngilu. Namun, bom dan peluru tentara Israel datang sesukanya, tanpa aba-aba, dan dapat menimpa siapa saja tanpa membedakan anak-anak, orang tua renta, juga ibu-ibu yang menyusui — genosida terstruktur dan direncanakan.

Para pemimpin dunia, terutama sebagian besar pemimpin Timur Tengah, terkesan hipokrit, berpura-pura tidak tahu. Mereka lebih tunduk kepada Amerika Serikat yang dikendalikan Yahudi. Bukan pada hati nuraninya.

Hati nurani justru disuarakan para mahasiswa dan aktivis kemanusiaan di berbagai belahan dunia, termasuk di Jakarta. Di Columbia University, New York, ratusan mahasiswa mendirikan kemah dalam aksi "Gaza Solidarity Encampment" di halaman kampus, April 2024. Lebih dari 100 demonstran ditangkap kepolisian New York (NYPD).

Gerakan mahasiswa pro-Palestina ini kemudian menjalar ke berbagai kampus terkemuka di Amerika Serikat, di antaranya New York University, Yale University, Harvard University Massachusetts, juga University of California, Los Angeles ( UCLA).

Gerakan mahasiswa pro-Palestina di Columbia University, New York, menginspirasi rapper terkemuka Amerika Serikat, Macklemore. Sebulan setelah pembubaran kemah mahasiswa Columbia University, Macklemore mengumandangkan lagu berjudul "Hind's Hall", menyuarakan dukungan pembebasan Palestina. Judul "Hind" mengambil nama Hind Rajab, seorang anak Palestina berusia enam tahun yang tewas di Gaza.