"Manfaat terbesarnya itu aku ngerti alur campaign dari awal sampai report ke klien. Tapi jujur, hampir semua pembelajaran itu datang dari perusahaan dan tim tempat aku magang, bukan dari program MagangHub-nya sendiri," ujar Inzaghi kepada NadiKabar belum lama ini.

Dari pekerjaannya, Inzaghi belajar menyusun laporan dan presentasi, berkomunikasi dengan tim, serta mengatur waktu. Ia juga mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana pekerjaan profesional dijalankan sehari-hari.

Pengalaman Inzaghi menunjukkan bahwa proses belajar selama pemagangan turut dipengaruhi oleh tugas yang diberikan perusahaan dan pendampingan tim di tempat peserta menjalani program. Karena itu, pengalaman peserta dapat berbeda sesuai bidang pekerjaan dan lingkungan tempat mereka magang.

Pengalaman serupa dirasakan Dhafin Armia, alumni MagangHub Batch II 2025 yang kini bekerja di salah satu media nasional. Saat mengikuti program tersebut, Dhafin menjalani pemagangan sebagai jurnalis. Tugasnya meliputi penulisan artikel berita dan peliputan di lapangan. Ia pun mendapat kesempatan menerapkan ilmu yang sebelumnya dipelajari saat kuliah.

Menurut Dhafin, tantangan selama magang terutama berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan dan dinamika kerja. Arahan dari mentor serta rekan kerja membantunya melewati proses tersebut.

Selain pengalaman kerja, uang saku yang diterima selama program turut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantunya berbagi dengan orang-orang di sekitarnya.

Setelah menyelesaikan MagangHub, Dhafin melamar pekerjaan di perusahaan lain dan diterima bekerja di salah satu media nasional. Pengalaman selama magang menjadi bekal saat menjalani proses rekrutmen, terutama ketika menjelaskan pengalaman yang relevan dengan pekerjaan yang dilamar.

"Iya membantu. Jadi pada saat tahap interview user/hr saya bisa kasih pengalaman yg relevan," ujar Dhafin.

Pengalaman tersebut juga membuatnya tidak terlalu asing dengan dinamika kerja jurnalistik ketika mulai bekerja di tempat baru.

Cerita Inzaghi dan Dhafin memperlihatkan bagaimana pemagangan dapat membantu lulusan baru mengenal pekerjaan secara langsung dan membangun pengalaman yang relevan. Meski demikian, hasil rekrutmen tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan dan kemampuan masing-masing pelamar.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli sebelumnya menegaskan bahwa pemagangan dalam MagangHub ditujukan untuk meningkatkan kompetensi peserta, bukan menggantikan tenaga kerja reguler di perusahaan.

"Kita terus ngawal perusahaan-perusahaan bahwa kalau mereka magang, ya mereka magang bukan bekerja dan konteks magang sekali lagi adalah mereka untuk meningkatkan kompetensi," ujar Yassierli, dikutip dari NadiKabar.

SMK Go Global, Pelatihan untuk Menjangkau Pasar Kerja Luar Negeri

Jika MagangHub berfokus pada pengalaman kerja di dalam negeri, SMK Go Global diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.

Program yang dijalankan KP2MI ini menyediakan pelatihan bahasa dan keterampilan teknis sesuai bidang pekerjaan yang dituju. Sasarannya bukan hanya lulusan SMK, tetapi juga masyarakat umum, termasuk lulusan perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan.

Pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran hingga 2029. Jumlah tersebut terdiri dari 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.

Dari total target tersebut, 300.000 orang berasal dari lulusan SMK dan 200.000 orang dari masyarakat umum. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

Bidang pekerjaan yang disasar antara lain perawat, caregiver atau pendamping lansia, pengelasan, pengemudi bus dan truk, serta sektor perhotelan. Negara tujuan yang disebut KP2MI meliputi Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, Turki, Taiwan, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Peserta yang lolos dapat mengikuti pelatihan tanpa dipungut biaya karena pembiayaannya ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah melalui proses verifikasi.

Pelatihan tidak hanya berisi pembelajaran bahasa asing, tetapi juga keterampilan teknis sesuai kebutuhan pekerjaan. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta mendapat pendampingan kesiapan kerja, informasi peluang kerja, dan fasilitasi pencocokan pekerjaan atau job matching dengan mitra industri serta Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Melalui tahapan tersebut, peserta dipersiapkan untuk mengikuti proses rekrutmen dan penempatan kerja sesuai kebutuhan pemberi kerja. Pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan sejak tahap persiapan agar calon pekerja migran dapat menempuh jalur yang resmi dan aman.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KP2MI Sukarman menjelaskan program ini terbuka bagi masyarakat umum, tidak terbatas pada lulusan SMK.