"Tidak hanya bentuk kemeriahan acara, tetapi juga melalui tumbuhnya jejaring kerja sama, berkembangnya peluang usaha, meningkatnya apresiasi terhadap seni dan budaya, serta semakin kuatnya kebanggaan masyarakat terhadap Kota Magelang," tegasnya.
Ditemui terpisah, Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, Yetty Setyaningsih mengatakan, latar belakang diselenggarakan ini karena keterbatasan fiskal daerah.
"Jadi, salah satu strategi untuk peningkatan perputaran ekonomi itu Kota Magelang sebagai Kota MICE. Artinya sebagai kota untuk Meeting, kemudian juga untuk exhibition atau pameran, salah satunya melalui event.
Memang event itu bukan satu-satunya strategi di dalam peningkatan pariwisata atau perputaran ekonomi lokal. Tapi, tetap kita lakukan sebagai starter supaya banyak pengunjung itu datang. Kemudian melakukan pembelanjaan, mendapatkan hiburan secara gratis. Satu sebagai hiburan, yang kedua juga meningkatkan perputaran ekonomi," kata Yetty.
Salah satu peserta Magelang Flower Festival yakni Kebun Anggrek Zilquin Pesona Bunga, Tawangmangu. Dalam event ini membawa jenis Anggrek Bulan dan Anggrek Dendrobium.
"Selama tiga hari ini, mulai Minggu, Senin dan Selasa untuk antusias pengunjung ramai. Jadi, saya terkesan di sini,'kok ternyata pengunjungnya ramai'. Untuk transaksi, Alhamdulillah lumayan ramai," kata Sabani (22), penunggu stan.
"Kami bawa 500. Yang terjual sudah lumayan. Kalau (selesai sehari pameran) meninggalkan stan ditutup dengan paranet. Untuk keamanan aman, kembali ke sini tidak ada barang berantakan seperti saat ditinggalkan," ujarnya.
Salah satu pengunjung, Finda (35) warga Jurangombo Selatan Kota Magelang mengatakan, Magelang Flower Festival ini sangat menarik baru pertama dilangsungkan.
"Saya sekalian pengen tahu bunga-bunga anggrek, jenis anggrek dan bukan cuman anggrek saja. Ini menarik sekali karena jarang ada acara kayak gini. Mungkin kedepannya lebih, banyak stan-stan UMKM," ujar Finda.