Versi terbaru ini hadir sebagai aplikasi multiplatform yang bisa diakses melalui web dan perangkat Android, dan kini resmi tersedia bagi pengguna iOS. Peluncuran ini menjadi bagian dari transformasi digital layanan informasi kebencanaan geologi.

MAGMA Indonesia membawa 10 pembaruan fitur utama. Salah satunya Geohazard Location Awareness, yang mengenali posisi pengguna terhadap kawasan rawan bencana. Pembaruan lain mencakup pemantauan visual CCTV dan live seismogram yang lebih stabil, riwayat aktivitas kebencanaan, serta integrasi data melalui Application Programming Interface (API). Untuk peringatan dini, sistem ini memakai Common Alerting Protocol (CAP) sebagai format standar.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, pengembangan MAGMA Indonesia diarahkan agar informasi kebencanaan mendorong tindakan yang lebih cepat dan tepat.