Sementara itu, Ketua KKN UAD, Muhammad Farel Naufalino mengatakan tim turut memberikan pendampingan desa serta rekapitulasi data korban gempa. Menurutnya, data tersebut bisa bermanfaat untuk proses pemulihan pascabencana.
"Yang pertama sudah kita lakukan adalah mendampingi perangkat desa dalam asesmen atau rekapitulasi data korban gempa pascabencana. Kemudian, rekapitulasi data rumah ibadah yang terdampak dan pendataan fasilitas umum," kata Muhammad Farel Naufalino.
Dia mengatakan Tim KKN UAD juga membantu perangkat desa dalam menyalurkan bantuan yang berasal dari pihak-pihak di luar jaringan KKN, UAD, maupun Muhammadiyah. Bantuan tersebut di antaranya berasal dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan sejumlah pihak eksternal lainnya. Saat ini, tim juga tengah melakukan penggalangan donasi bekerja sama dengan Lazismu UAD dan Partai Parmasi.
Dalam menjalankan tugas tanggap bencana, tim KKN UAD turut berkoordinasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Manggarai Barat. Setiap hari, tim mengirimkan situation report (sitrep) yang berisi perkembangan kondisi di lokasi, situasi terkini masyarakat, serta pembaruan kegiatan penanganan bencana.
"Berdasarkan hasil rekapitulasi data yang dilakukan tim, sekitar 40 persen bangunan di wilayah tersebut terdampak gempa. Kendati demikian, tingkat kerusakan didominasi kategori ringan karena lokasi berada cukup jauh dari pusat gempa. Sementara itu, sekitar 5-10 persen bangunan diperkirakan mengalami kerusakan berat," tuturnya.
Dia menambahkan kerusakan juga ditemukan pada sejumlah fasilitas umum. Salah satunya adalah puskesmas yang menurut pengamatan tim mengalami kerusakan cukup berat. Namun, pihak puskesmas menyebut tingkat kerusakan masih dalam kategori sedang karena masih menunggu hasil kajian dari kementerian dan dinas terkait.
"Kalau terkait kondisi warga, rata-rata masih trauma. Ada beberapa yang trauma berat, tetapi kami belum melakukan asesmen lanjutan karena belum ada psikolog atau pendamping yang memiliki kompetensi khusus di sini," jelasnya.
Hingga saat ini, belum tersedia tenda evakuasi maupun pos koordinasi yang memadai di lokasi selain yang berada di sekitar kediaman kepala desa. Meski demikian, semangat gotong royong masyarakat terlihat kuat.
Satu tenda dapat digunakan oleh beberapa kepala keluarga, sementara warga yang memiliki keterbatasan, termasuk lansia yang tinggal seorang diri, dibantu oleh warga lainnya untuk melakukan evakuasi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Di sini yang dievakuasi bukan hanya satu rumah dalam satu tenda. Satu tenda bisa digunakan untuk beberapa KK. Ada juga lansia yang sudah sepuh dan tinggal sendiri, kemudian dibantu warga lainnya untuk dievakuasi dan tinggal bersama mereka," tutur Farel.