Melihat kondisi tersebut, program prioritas tim KKN saat ini diarahkan pada pendampingan tanggap bencana bersama perangkat desa serta kegiatan psikososial. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi trauma pascabencana. Namun, intervensi psikologis yang lebih mendalam belum dapat dilakukan karena tim masih membutuhkan pendampingan tenaga profesional, khususnya psikolog.
Untuk sementara, kegiatan psikososial dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti terapi seni (art therapy), olahraga, dan kegiatan kesenian. Tim berharap relawan yang memiliki pengalaman dalam penanganan bencana maupun intervensi psikososial dapat memberikan arahan dan pendampingan kepada mereka.
"Kami sangat membutuhkan pendampingan dan arahan dari relawan-relawan yang sudah berpengalaman. Kami di KKN ini memang ada yang berlatar belakang psikologi, tetapi rata-rata bukan dari program studi psikologi. Jadi, kami benar-benar belajar dari nol sambil mempraktekkannya secara langsung," ungkap Farel.
Di tengah keterbatasan tersebut, Farel menilai banyak pelajaran yang diperoleh selama mendampingi masyarakat terdampak bencana. Salah satunya adalah pentingnya kerja sama, toleransi, dan semangat kekeluargaan. Tim KKN ditempatkan di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya beragama Katolik.
"Pelajaran yang sangat kami dapatkan di sini adalah toleransi beragama dan pluralisme. KKN kami berada di tempat yang mayoritas Katolik. Selain itu, hidup bersama, kekeluargaan, dan saling tolong-menolong juga menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami," ujarnya.
Farel mengajak masyarakat luas untuk terus mengikuti perkembangan kondisi pascabencana dan tidak berhenti memberikan perhatian kepada para korban. Dukungan masyarakat dapat diberikan melalui bantuan moril maupun material, termasuk berpartisipasi dalam penggalangan donasi yang dilakukan oleh lembaga dan pihak terpercaya.
"Duka mereka adalah duka kita semua. Kami berharap masyarakat terus mengikuti berita terbaru dan apabila ada penggalangan donasi, dapat menyisihkan rezekinya untuk warga yang membutuhkan," jelasnya.
Dia juga mengingatkan agar perhatian terhadap masyarakat terdampak tidak berhenti ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang. Pemulihan membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara layak.
"Jangan sampai perhatian kita redup. Kita bantu sampai benar-benar pulih," tutup Farel.