Pemanfaatan limbah ini juga memberi angin segar bagi para petani di daerah pemasok yang selama ini cenderung mengabaikan sisa panen, khususnya rambut jagung.
Ia menyebutkan bahwa sebelum adanya inisiatif inovasi ini, rambut jagung manis di Desa Sragi tidak memiliki nilai ekonomis dan hanya berakhir menjadi sampah lahan. Rata-rata limbah rambut jagung tersebut dibuang dan dibakar, sehingga tidak termanfaatkan.
Saat ini, produk teh celup artisan tersebut sudah memasuki tahap komersialisasi awal dengan menawarkan varian kemasan premium yang dibanderol dari harga Rp75.000 hingga Rp100.000.
Selain memberikan efek rileks dan menstabilkan gula darah, konsumen wanita juga melaporkan adanya penurunan rasa nyeri saat siklus menstruasi setelah mengonsumsi teh ini.
Program yang mendapat pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini, ke depannya diharapkan tidak sekadar menjadi produk wirausaha kampus yang lolos pendanaan, namun mampu menjadi solusi berkelanjutan yang meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang.