Kondisi masyarakat yang belum mapan secara ekonomi dan belum terdidik juga dinilai rawan memunculkan pemimpin demagog, yakni politikus yang hanya mengandalkan 'omon-omon' dan janji kosong tanpa basis data. Ia mencontohkan praktik politisi era Orde Baru (Orba) yang mengeksploitasi masyarakat dengan menawarkan pembangunan jembatan di daerah yang bahkan tidak memiliki sungai.
Orba adalah rezim yang dipimpin Presiden kedua RI Soeharto selama 32 tahun, dan tumbang oleh gerakan Reformasi 1998.
Menurut Mahfud, kritik tak bisa dilunturkan untuk membenahi, memperbaiki, dan mengavaluasi pemerintahan, termasuk yang saat ini berkuasa. Di hadapan para mahasiswa, ia menekankan bahwa pemuda sebagai calon penerus pemimpin bangsa harus memiliki kesadaran hidup bernegara yang jauh lebih kuat.
"Sekarang ini di kalangan penyelenggara negara kita yang harusnya menjadi pemimpin bangsa, banyak catatan-catatan yang perlu dikoreksi," kata Mahfud.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Mahfud menyoroti pentingnya mempersiapkan figur-figur baru yang benar-benar memahami esensi demokrasi untuk mengisi pos-pos kepemimpinan. Tapi transisi ini, menurutnya, harus dilakukan melalui mekanisme yang sah secara hukum dan konstitusi.
"Koreksinya gimana? Nanti kalau terjadi pergantian kepemimpinan karena proses konstitusional, itu kan kita harus menyiapkan orang-orang yang lebih menghayati demokrasi," tegasnya.
Melalui pembekalan tersebut, Mahfud pun berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar menyerap kerangka kerja demokrasi.