NADIKABAR.COM — Lokomotif uap E1060 buatan Jerman pada 1966 menyimpan cerita tentang rekayasa perkeretaapian, warisan industri dunia, dan tantangan pelestarian sejarah Indonesia

Jakarta (NadiKabar) - Jauh sebelum kereta cepat melesat dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, para insinyur perkeretaapian telah menghadapi tantangan yang berbeda yaitu bagaimana membawa kereta api melewati kawasan pegunungan dengan tanjakan terjal. Di Sumatra Barat, tantangan itu berkaitan dengan kebutuhan mengangkut batu bara Ombilin dari pedalaman menuju pelabuhan. Salah satu peninggalan yang mengingatkan kita pada era tersebut adalah Mak Itam, lokomotif uap yang menyimpan cerita tentang teknologi, industri, dan perubahan zaman.

Mak Itam merupakan lokomotif uap E1060 buatan pabrik Esslingen, Jerman, yang didatangkan ke Indonesia pada 1966. Lokomotif berkekuatan 750 tenaga kuda ini memiliki roda gigi di bagian bawahnya. Teknologi tersebut berkaitan dengan sistem rel bergerigi yang dikembangkan untuk menghadapi lintasan menanjak. Namun, roda gigi Mak Itam tidak sesuai dengan konfigurasi rel bergigi menuju Bedono, sehingga lokomotif ini tidak melintasi jalur tersebut ketika pernah digunakan untuk perjalanan wisata di Jawa Tengah. Detail ini menunjukkan bahwa teknologi kereta api dirancang dengan spesifikasi tertentu, bukan untuk digunakan pada semua jalur.

Cerita di balik Mak Itam berawal dari penemuan batu bara Ombilin sekitar 1868 oleh ahli geologi Willem Hendrik de Greve. Cadangan batu bara di kawasan Sawahlunto memiliki nilai ekonomi besar, tetapi lokasinya berada di pedalaman yang dikelilingi medan berbukit. Tantangannya bukan berhenti pada penambangan. Hasil tambang juga harus dibawa menuju pantai agar dapat didistribusikan. Pembangunan jaringan kereta api kemudian menjadi bagian dari sistem yang menghubungkan tambang, fasilitas pengolahan, jalur pegunungan, dan pelabuhan.

Skala rekayasa tersebut melampaui kepentingan satu kota. UNESCO mencatat Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sebagai sistem industri terpadu yang mencakup tambang, kawasan permukiman perusahaan, fasilitas penyimpanan batu bara, pelabuhan, dan jaringan kereta api pegunungan sepanjang 155 kilometer. Sistem ini memperlihatkan pertemuan pengetahuan teknik Eropa dengan pengetahuan lokal mengenai lingkungan dan kondisi geografis. Pada 6 Juli 2019, UNESCO menetapkan kawasan warisan industri tersebut sebagai Situs Warisan Dunia. Pengakuan diberikan kepada keseluruhan sistem Ombilin, bukan kepada Mak Itam sebagai objek individual.