Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kisah Mak Itam membantu masyarakat memahami bahwa teknologi perkeretaapian berkembang melalui proses panjang untuk menjawab kebutuhan dan kondisi pada zamannya. “Di balik sebuah lokomotif, terdapat pengetahuan teknik dan keputusan desain yang lahir dari tantangan nyata. Kisah Mak Itam mengajak kita melihat bagaimana transportasi, kegiatan industri, dan perkembangan wilayah saling berkaitan. Sejarah tersebut penting dipahami agar kita mengetahui perjalanan teknologi perkeretaapian Indonesia hingga saat ini,” ujar Anne.
Perjalanan lokomotif uap di Sumatra Barat berlangsung dalam beberapa generasi. Keluarga lokomotif E10 didatangkan dalam beberapa tahap, termasuk 22 unit pada 1921–1928, 20 unit pada 1964–1966, dan tujuh unit pada 1967. Seiring perkembangan teknologi diesel, lokomotif uap perlahan meninggalkan tugas regulernya pada awal 1980-an. Mak Itam kemudian memasuki babak baru sebagai sarana wisata. Pada 1998, lokomotif ini dipindahkan ke Museum Kereta Api Ambarawa dalam kondisi rusak dan setelah diperbaiki sempat melayani perjalanan wisata di Jawa Tengah. Pada Desember 2008, Mak Itam kembali ke Sawahlunto untuk mendukung pengembangan wisata sejarah perkeretaapian.
Perubahan fungsi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi warisan industri di berbagai negara. Ketika teknologi lama tidak lagi menjadi pilihan utama dalam operasional, nilai sebuah sarana dapat bergeser dari alat produksi menjadi sumber pengetahuan sejarah. Namun, perubahan fungsi itu membutuhkan pengelolaan yang cermat. Pelestarian perlu menjaga karakter asli sarana, mendokumentasikan sejarahnya, serta memastikan pemanfaatannya sesuai dengan kondisi teknis dan persyaratan keselamatan.
Mak Itam ditetapkan sebagai benda cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 188.45/327/WAKO-SWL/2017. Berdasarkan data KAI, lokomotif ini berada di Depo Sawahlunto dan masih dapat bergerak di emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum. KAI juga mencatat adanya kebocoran pada sejumlah pipa api ketel uap yang memerlukan perawatan dan perbaikan sebelum lokomotif dapat beroperasi secara optimal. Kondisi ini mengingatkan bahwa menjaga warisan teknologi membutuhkan pekerjaan teknis yang persisi, bukan sekadar mempertahankan tampilan luarnya.