NADIKABAR.COM — Air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, surut dan menyebabkan sejumlah makam kuno bermunculan. Di tim redaksi legenda urban yang beredar terdapat sosok bernama Eyang Raden Santri yang sangat dihormati masyarakat.

Tokoh masyarakat di Kelurahan Wuryantoro, Suparso (77), bercerita makam kuno yang kini mulai tampak itu dulunya berada di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari.

"Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum," kata Suparso kepada awak media, Rabu (9/9/2026).

Dia menceritakan, Eyang Raden Santri merupakan warga kampung setempat. Dia merupakan seorang petani biasa.

Suatu hari, dia tengah mencangkul untuk membuat saluran air di sekitaran sawahnya. Lalu ada seorang pria yang datang dan berjalan di saluran air yang tengah dibuat.

"Eyang Raden Santri kemudian menegur, karena kalau rusak bagaimana. Pria itu mengatakan, untuk melihat kembali, apakah tempat bekas ia melintas itu membuat rusak (saluran air), atau tidak," ucapnya.

Eyang Raden Santri pun melihat kembali sawahnya, dan tidak ada kerusakan pada saluran airnya. Karena merasa janggal, Eyang Raden Santri pun kemudian mengejar dan mengikuti pria misterius tersebut.

Saat berhasil dikejar, Eyang Raden Santri ditegur oleh pria tersebut karena membuntutinya. Karena Eyang Raden Santri menganggap pria itu memiliki kesaktian, dia ingin mengikuti pria tersebut.

Kemudian Eyang Raden Santri dibawa ke Bengawan Solo. Pria tersebut juga membuat rakit untuk dinaikin Eyang Raden Santri.

"Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak buatkan getek (rakit) ini. Rakit ini kalau jalan, kalau belum berhenti sendiri, kamu tidak boleh mentas (meninggalkan rakit)," ucap mantan dalang itu.

Eyang Raden Santri kemudian menuruti perkataan pria itu. Dengan rakit sederhana, dia menyusuri aliran Bengawan Solo selama beberapa hari hingga berhenti di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Di sana, Eyang Raden Santri ditemukan warga dalam kondisi lemas karena belum makan beberapa hari. Di Kampung Keblokan, dia diberikan makan, hingga kondisi fisiknya pulih.

"Di sana (Keblokan) Eyang Raden Santri di-Islamkan, diajari baca surat-surat Al-Qur'an. Setelah itu, dia disuruh pulang dan menyiarkan agama Islam. Lalu dia punya nama Eyang Raden Santri itu," terangnya.

"Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo, entah Sunan Giri," imbuhnya.

Kembali ke Kampung Sentono, Eyang Raden Santri, kemudian menyebarkan ajaran agama Islam. Karena ajaran Islam yang disebarkan Eyang Raden Santri, dia kemudian menjadi salah satu tokoh yang dihormati.

Saat meninggal, jasadnya dikebumikan di makam yang kini sudah menjadi proyek WGM. Suparso mengatakan, dulu banyak peziarah yang datang ke makam Eyang Raden Santri.

"Saya dulu pernah nyadran (ziarah), makamnya cukup besar. Sebelum orang-orang ke masjid, di situ juga untuk topobroto. Yang berziarah orang dari mana-mana," ucapnya.

Diketahui pembangunan WGM ini menenggelamkan sebanyak 51 desa yang tersebar di 7 kecamatan di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 1974-1981. Proyek itu juga merelokasi warga dan makam di kampung Sentono.

Suparso mengatakan, warga kampung pindah ke Jambi. Sementara makam-makam dipindah di daerah Balat Kantor Kelurahan Wuryantoro.

"Nisannya (yang lama) dibuang, di sana (makam yang baru) dibuat nisan yang baru yang lebih bagus. Termasuk Eyang Raden Santri yang kerangkanya juga dipindah. Kalau makam yang itu (di WGM) sudah suwung (kosong), sudah dipindah semua," pungkasnya.