Dalam riwayat yang berkembang, Syekh Jumadil Kubro disebut pernah meninggalkan jabatan strategisnya sebagai Gubernur Deccan di India untuk berdakwah dan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah.
Rute perjalanan dakwahnya disebut meliputi Maghribi atau Maroko, Samarqand di Uzbekistan, Kelantan di Malaysia, hingga Jawa pada masa Majapahit dan Gowa di Sulawesi Selatan.
Dalam riwayat tersebut, perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro kemudian berlanjut hingga Trowulan. Ia disebut wafat dan dimakamkan di kawasan tersebut sekitar 1376 Masehi.
Selain makam Syekh Jumadil Kubro, kawasan Troloyo juga memiliki Makam Tujuh atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Kubur Pitu. Dilansir dari laman resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Makam Tujuh berada di dalam kawasan Situs Kepurbakalaan Tralaya.
Situs tersebut merupakan bagian dari kompleks pemakaman Islam kuno yang telah ada sejak era Majapahit. Secara fisik, area Makam Tujuh memiliki luas sekitar 15 meter x 7 meter.
Kawasan tersebut dikelilingi pagar bata dan dilindungi atap seng yang ditopang tiang-tiang kayu. Sejumlah nisan di Kubur Pitu memiliki inskripsi Arab, motif Surya Majapahit, serta angka tahun Saka. Berikut beberapa nisan yang memiliki keterangan tersebut.
Pada bagian luar nisan kepala terdapat inskripsi Arab sebanyak tiga baris yang bertuliskan, Lā ilāha illallāhu Muhammadu rasūlullāh, yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah".
Pada bagian dalam nisan kepala terdapat ukiran sinar matahari atau Surya. Di bawahnya terdapat pahatan angka tahun Saka 1397, yang setara dengan 1475 Masehi.