NADIKABAR.COM — PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) optimistis industri reksa dana domestik tetap memiliki prospek positif ke depan meski dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) menghadapi tekanan atau mengalami koreksi sepanjang Januari-September 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat AUM reksa dana di Indonesia berada di kisaran Rp620,53 triliun per September 2026, atau terkoreksi 5,79 persen year to date (ytd) dibandingkan sebesar Rp658,69 triliun pada akhir tahun 2025.

Direktur Makmur Stefanus Dennis Winarto dalam Media Gathering Makmur di Jakarta, Selasa, mengatakan optimisme prospek positif industri reksa dana tersebut berkaca dari meningkatnya jumlah investor dan peluang pendalaman pasar melalui kebiasaan investasi secara berkala.

Ia mengakui bahwa industri reksa dana sepanjang tahun 2026 memang menghadapi tekanan, terutama pada April sampai Juni 2026 ketika pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah memicu peningkatan aksi pencairan (redemption).

"Net-net mungkin dari awal tahun sampai sekarang itu flat ke turun sih NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksa dana. Tapi di Makmur sempat mengalami penurunan juga di kuartal II, kuartal III balik lagi," kata Stefanus.

Menurut dia, tekanan pada industri reksa dana lebih banyak mencerminkan reallocation atau perpindahan aset, bukan karena keluarnya investor secara permanen dari instrumen investasi tersebut.