Karena itu, ketika membicarakan bencana, manusia tidak cukup hanya bertanya, "Mengapa Allah memberikan musibah ini?"

Pertanyaan lain yang juga penting adalah, "Apa yang telah dilakukan manusia terhadap lingkungan?"

Salah satu ayat yang dibahas dalam kedua kajian tersebut adalah QS Ar-Rum ayat 41.

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Arab-Latin: ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba'ḍallażī 'amilụ la'allahum yarji'ụn

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ayat tersebut menjadi dasar penting dalam melihat hubungan tim redaksi perilaku manusia dan kerusakan yang terjadi di bumi. Rulia Rahmawati menjelaskan bahwa ayat tersebut mengingatkan manusia mengenai dampak dari perbuatannya sekaligus mendorong manusia untuk kembali kepada jalan yang benar.

Dalam kajian kontekstual, pesan ayat tersebut kemudian dapat ditarik ke persoalan lingkungan masa kini. Manusia dituntut untuk melakukan pelestarian lingkungan agar tidak mewariskan kondisi ekologis yang rusak kepada generasi berikutnya.

Jadi, pesan keagamaan yang dapat diambil dari bencana bukan hanya soal menerima musibah, tetapi juga melakukan introspeksi terhadap cara manusia memperlakukan alam.