Di sana, ia merasakan langsung getirnya akhir Perang Dunia II, harus bertahan hidup di tengah kekacauan, kekerasan, hingga penjarahan, sebelum akhirnya bisa ditarik pulang ke Jepang pada 1946.
Masa-masa pemulihan pascaperang itu rupanya memantik ketertarikannya pada dunia menggambar. Ia mulai menjajal peruntungan dengan bergabung grup majalah komik, hingga berhasil debut sebagai mangaka profesional di usia yang baru menginjak 17 tahun.
Namanya mulai meroket setelah menyabet penghargaan manga anak-anak dari penerbit Kodansha pada 1962.
Dari sana, deretan karya hit lahir dari tangannya, mulai dari Shiden-kai no Taka yang memotret perjuangan pilot masa perang, hingga manga olahraga Harris no Kaze yang sukses diadaptasi jadi anime televisi.
Namun, ledakan karier sejatinya baru terjadi pada 1968. Ia berkolaborasi dengan penulis Asao Takamori alias Ikki Kajiwara hingga melahirkan Ashita no Joe, mahakarya tentang Joe Yabuki yang mendedikasikan seluruh napasnya untuk ring tinju.
Serial komik itu meledak luar biasa, mendongkrak tajam sirkulasi Weekly Shonen Magazine, dan sukses diangkat ke layar kaca hingga film live-action.