Saking berartinya manga ini bagi publik Jepang, ketika karakter rival Joe, Toru Rikiishi, diceritakan tewas dalam cerita, pihak penerbit Kodansha sampai menggelar upacara pemakaman sungguhan di dunia nyata yang dibanjiri isak tangis penggemar.

Tangan dingin Chiba terus menghasilkan karya-karya populer lain, seperti seri sumo Notari Matsutaro, komik golf Ashita Tenki ni Naare, hingga kisah kendo Ore wa Teppei.

Bukan cuma jago merangkai cerita di atas kertas, kakak kandung dari mendiang komikus Akio Chiba ini juga mendedikasikan dirinya untuk industri.

Ia sempat menjabat sebagai kepala Asosiasi Kartunis Jepang dan sibuk mengkader mangaka generasi baru sebagai pimpinan di Universitas Seni Bunsei di Utsunomiya, Tochigi.

Pengabdian panjangnya itu diganjar deretan tanda kehormatan negara. Sebelum menerima Order of Culture pada 2024, Chiba sudah lebih dulu dikalungi Medali Pita Ungu pada 2002 dan penghargaan bergengsi Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette 10 tahun kemudian.

Di sisa usia senjanya, sang legenda ini bahkan masih menyempatkan diri menggoreskan perjalanan hidupnya lewat manga esai autobiografi sebelum meninggal dunia.