Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, Theresia P Asmon, mengatakan kasus diare sudah muncul sebelum bencana gempa bumi. Namun, jumlah kasus melonjak drastis saat memasuki masa tanggap darurat pascagempa sejak pertengahan Agustus lalu.

Perempuan yang akrab disapa Ney itu mengungkapkan kasus diare tak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dewasa. Ada 493 kasus diare yang tercatat di berbagai fasilitas kesehatan di Manggarai Barat. Kasus tertinggi diare tercatat di Puskesmas Wae Nakeng, Kecamatan Lembor.

"Itu akumulasi dari laporan seluruh puskesmas. Diare kecenderungan naik memang sebelum gempa, lalu meningkat setelah gempa," terang Ney.

Tim Dinkes Manggarai Barat sudah melakukan pemeriksaan sampel air di Puskesmas Wae Nakeng sebagai wilayah dengan kasus diare tertinggi. Tak ditemukan kimia pada air. Hanya ditemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada tempat penyimpanan air.