Terhentinya bantuan tersebut membuat Uni kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Dia mengaku kerap berutang beras kepada warga agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

"Kalau utang beras biasanya diberi jangka waktu dua bulan untuk membayar. Kalau tidak ada yang dari keluarga, biasa juga pakai beasiswa Sulfa," terangnya.

Sementara Sulfa mengaku sempat berjualan untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama ibunya. Namun, usaha itu akhirnya terhenti karena modal yang dimiliki telah habis.

"Dulu pernah jualan. Tapi sudah lama berhenti karena modalnya sudah habis," beber Sulfa.

Sulfa berharap pemerintah dapat kembali memberikan bantuan beras kepada keluarganya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti untuk meringankan beban ekonomi mereka.

"Semoga bisa lagi mendapat bantuan beras secara rutin seperti dulu. Supaya tidak perlu lagi berhutang untuk dapat beras," ucapnya.

Kepala Desa Katumbangan, Nuranda Tato membenarkan bahwa warganya tersebut tidak lagi menerima bansos berupa beras. Namun, dia menyebut Uni masih tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa.