"Tidak ada memang datang namanya, berarti tidak ada undangan untuk dapat bansos. Tapi dia dapat BLT desa, tahun ini juga masih dapat," ucap Nuranda.
Nuranda juga mengaku kerap berupaya menyisihkan bantuan beras untuk diberikan kepada Uni. Dia pun mengaku heran dengan data Uni yang masuk dalam kategori desil 5 yang dinilai lebih layak untuk masuk dalam kategori desil 1.
"Saya juga tidak tahu kenapa bisa masuk desil 5, karena sepertinya sudah pernah diurus orang dinsos. Padahal sangat layak masuk desil," ungkapnya.
Menurut Nuranda, status desil 5 tersebut tidak hanya berdampak pada pemberian bantuan beras. Situasi itu juga menyulitkan pemerintah desa dalam mengusulkan bantuan bedah rumah untuk Uni.
"Makin parah memang kondisi rumahnya. Pernah diusul (dapat bedah rumah), cuman sampai desil 1 dan 2 saja, dia tidak masuk jadi tidak bisa diusul," tandasnya.
Meski demikian, pemerintah desa berencana mengupayakan perbaikan data desil Uni melalui mekanisme sanggah yang dilakukan operator desa.
"Kita akan berupaya lakukan perbaikan data desil, itu akan kita perbaiki, Kita akan bermohon, kita akan sanggah kalau memang tidak layak di desil yang sekarang ini," pungkasnya.