"Tapi bisa saya pastikan ini bukan aksi terakhir. Masih akan ada aksi lagi ke depannya dan kami akan tetap ada dan berlipat ganda," kata Daniel.
Dampak buruk dari kebakaran hutan ini turut dirasakan dan disuarakan langsung oleh peserta aksi asal Kalimantan Timur yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Muhammad Athar Farizi.
Athar sempat menyampaikan orasinya di tengah massa aksi. Ia bahkan terlihat emosional hingga terisak. Dirinya mengingat peristiwa dan dampak karhutla yang saat ini dirasakan keluarganya.
Ia membeberkan, keluarganya serta warga sekitar di daerah asalnya sangat menderita akibat paparan asap pekat karhutla yang melumpuhkan aktivitas sehari-hari.
"Kondisi keluarga saya di Kalimantan, untuk sehari-harinya, pekerjaan, kondisi pernapasan mereka yang paling terganggu," kataAthar.
Ia pun merasa sangat kecewa dengan sikap lamban dan abai para pemangku kebijakan, baik di tingkat pemerintahan daerah maupun pusat. Ia menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap penderitaan rakyat.
"Kalian di istana, di kantor-kantor bupati, di kantor wali kota, kantor gubernur, itu cuman dapat enaknya doang. Kami masyarakat kecil ini yang merasakan dampaknya," kata Athar.
Aksi kemudian diakhiri dengan pemasangan kain spanduk berkelir putih bertuliskan empat tuntutan massa aksi di Patung Gubernur Suryo di tengah Taman Apsari Surabaya, seberang Gedung Grahadi.