Sudaryono mengatakan, dapur-dapur SPPG biasanya menyiapkan dan mengirimkan makanan sesuai dengan jam operasional sekolah. Namun, di sejumlah daerah terdampak Karhutla, terdapat situasi ketika makanan sudah selesai dimasak sebelum pihak sekolah menyampaikan keputusan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar.
"Jadi MBG melayani, mengirimkan MBG, Dapur-dapur SPPG itu di jam operasional sekolah. Nah, kasus Karhutla di beberapa daerah itu adalah dia sudah masak, baru kemudian diberitahu bahwa karena Karhutla itu kemudian sekolahnya diliburkan," kata Sudaryono.
Dalam kondisi tersebut, makanan yang telah terlanjur diproduksi tetap disalurkan dengan mekanisme khusus. BGN melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta pihak sekolah untuk menentukan pola distribusi yang tepat.
"Oleh karenanya yang sudah dimasak itu kemudian tetap kita bagikan dengan mekanisme yang kemudian berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan Kepala Daerah, dengan Kepala Sekolah, gitu," sambungnya.