Menurut Sudaryono, salah satu solusi yang diterapkan di lapangan adalah dengan meminta orang tua datang mengambil makanan yang telah disiapkan. Namun, penyaluran MBG hanya dilakukan untuk makanan yang sudah telanjur dimasak pada hari pertama. Distribusi akan dihentikan sepenuhnya pada hari-hari berikutnya selama sekolah masih diliburkan.
"Kemudian diambil lah tindakan misalnya orang tua yang ngambil kasusnya. Tapi setelah itu, hari berikutnya sudah nggak ada lagi karena memang operasional sekolahnya tidak bersekolah. Jadi sekolahnya libur karena adanya kabut, kabut asap," paparnya.
Kebijakan tersebut diterapkan di sejumlah daerah yang terdampak kabut asap akibat Karhutla, termasuk wilayah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, serta sejumlah daerah di Sumatra. BGN telah menyampaikan ketentuan tersebut kepada dapur-dapur SPPG sebagai pedoman selama sekolah diliburkan.
"Maka ada yang diambil, ada yang di Kalteng, ada yang di Kalsel, ada yang di Kalimantan Barat, termasuk yang di Sumatra. Jadi ini kita sudah memberikan edaran seperti itu di dapur-dapur. Sehingga pada saat dia libur sekolah, dia nggak dikasih. Cuma hari pertama karena sudah kadung," pungkas Sudaryono.