Dari 2,6 ton sabu cair yang disita itu berpotensi menghasilkan 2,8 juta cartridge vape narkoba dengan nilai ekonomi mencapai Rp 8,5 triliun. Pengungkapan tersebut menyelamatkan 14,1 juta jiwa dari penyalahgunaan narkoba.
Tak berhenti sampai di situ, BNN bersama instansi terkait lainnya berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba. Berselang tujuh hari, tepatnya pada 24 Agustus 2026, tim gabungan menemukan 800 kilogram ketamin HCL yang disembutan di buritan Kapal Fu Chang Sing I.
Barang bukti tersebut dikemas dalam 40 karung berisi 800 bungkus. Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan terhadap jaringan narkoba internasional melalui jalur laut.
Fu Chang Sing I sebelumnya terdeteksi melakukan aktivitas ship to ship dengan Kapal MT asli sebelum akhirnya kedua kapal diintersepsi oleh tim gabungan dari Perairan Anambas dan Natuna. Pengungkapan 800 kilogram ketamin HCL tersebut diperkirakan bernilai Rp 1,28 triliun dan sekitar 4 juta jiwa terselamatkan.
Pengembangan kasus juga berhasil mengamankan seorang Warga Negara Taiwan yang berperan sebagai Manajer Kapal Fu Chang Sing sekaligus pengendali pengiriman barang bukti.
Dalam dua bulan, lebih dari 8 ton narkoba berhasil diamankan dan lebih dari Rp 16,4 triliun nilai ekonomi jaringan berhasil dilumpuhkan. Dan yang lebih utama, lebih dari 34,7 juta jiwa generasi bangsa berhasil diselamatkan. Ini bukan sekedar angka, tetapi perlindungan terhadap manusia, keluarga, dan masa depan Indonesia.
Lahir di Jakarta, 14 Juli 1973, Suyudi lulus Akpol pada 1994. Pada 2003 ia melanjutkan pendidikan di PTIK dan Sespimti pada 2018 dengan gelar Sarjana Hukum dan Magister Sains.
Di bidang akademis, Suyudi meraih Doktor Honoris Causa Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanegara pada Januari 2026 atas kontribusinya dalam kebijakan penanganan narkoba. Menjabat sebagai Kepala BNN pada 2025, Suyudi merupakan alumni Akpol 94 pertama dengan pangkat bintang tiga.