"Mereka (Iran-red) membangun semacam perangkat anti-pesawat. Dan kita melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," sebutnya.

Serangan terhadap Pulau Qeshm sebelumnya juga terjadi pada Senin (2/11). Seorang pejabat Washington saat itu menyebutnya sebagai serangan defensif dan menegaskan aksi tersebut tidak menandai dimulainya kembali operasi militer berskala besar.

Di tengah situasi tersebut, militer Iran memperingatkan bahwa kemampuan pasukannya kini lebih kuat dibandingkan saat perang melawan AS dan Israel dimulai pada akhir Februari 2026.

Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan pasukannya telah memperoleh pengalaman dari konfrontasi langsung dengan kedua negara. Dia juga menyebut militer Iran berada dalam kondisi siaga lebih tinggi.

"Saat ini, Angkatan Bersenjata Republik Islam (Iran)... telah mendapatkan pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, berada dalam tingkat kesiagaan yang lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan saat awal perang," tegas Akraminia dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Sabtu (7/11).

Akraminia juga menegaskan Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu biasanya dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Teheran menyatakan jalur tersebut akan tetap ditutup hingga AS memenuhi tuntutan Iran.

"Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons Angkatan Bersenjata akan bersifat segera, efektif, dan tanpa batasan geografis," tegasnya.

Sebelum insiden di Pulau Qeshm, Trump telah memperingatkan kemungkinan dilakukannya operasi militer lanjutan terhadap Iran. Dia menyebut AS akan segera mengambil keputusan terkait kelanjutan perang.