Cerita berpusat pada empat jurnalis di sebuah ruang redaksi yang terseret ke dalam teka-teki hilangnya sejumlah anak secara beruntun. Apa yang semula tampak sebagai kasus penculikan biasa perlahan membuka lapisan persoalan yang lebih kelam, mulai dari praktik pemujaan sesat hingga jejak predator berdarah dingin yang menggerogoti batas-batas kemanusiaan.
Daya tarik utama film ini bertumpu pada penulisan karakter perempuan yang kokoh dan berdaya. Naskah garapan Rezi Junio dan Umay Shahab menepis kecenderungan menempatkan perempuan sekadar pemanis layar atau korban tak berdaya. Keempat jurnalis ini memikul beban emosional masing-masing yang menjadi mesin penggerak investigasi.
Agnes (Laura Basuki) dibayangi duka berkepanjangan seusai kehilangan buah hatinya, tetapi diberkahi intuisi tajam dan kepekaan indra keenam. Di sisinya, Cia (Prilly Latuconsina) memancarkan kegelisahan seorang bibi yang protektif menjaga keponakannya, Pandu (Jordan Omar), di tengah lingkungan sosial yang kian berbahaya bagi anak-anak.
Sementara itu, Brina (Taskya Namya) tampil meledak-ledak, vokal, dan tak segan menempuh konfrontasi fisik di lapangan, didampingi sang kakak, Petra (Andri Mashadi), seorang polisi yang memilih bergerak senyap demi menjaganya. Adapun Anya (Yasamin Jasem) hadir sebagai otak riset yang metodis. Ketertarikan Anya pada literatur demonologi dan okultisme menjadi jembatan penting untuk membedah simbol-simbol pemujaan iblis yang membungkus kejahatan sang buronan.