NADIKABAR.COM — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membahas soal keterbukaan publik yang diterapkan oleh Kemenag. Dia mencontohkan layanan pengaduan yang dibuat untuk para santri.

Hal tersebut disampaikan Nasaruddin dalam saat memberi sambutan dalam Peluncuran Indeks Integritas Pendidikan di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026). Dia awalnya membahas kurikulum Cinta yang digagas Kemenag.

Dia mengatakan kurikulum itu telah diterapkan di sekolah yang berada di bawah naungan Kemenag. Menurutnya, penerapan kurikulum tersebut mulai berdampak pada perubahan sikap para murid.

"Ada anak-anak saking kerjanya kurikulum Cinta itu ya nyamuk yang menggigit tangannya pun dia tidak akan bunuh. Kasihan ada anaknya yang membutuhkan makanan kalau ini dibunuh bagaimana kehidupan anaknya. Nah saya kira kalah kita itu. Jadi kurikulum cinta ini kalau menancap dalam diri kita, nyamuk pun disayangi apalagi mengambil haknya orang," ujarnya.

Nasaruddin menyebut Kemenag juga menerapkan pendidikan antikorupsi di madrasah sejak tahun 2019. Dia mengatakan Kemenag juga menggandeng KPK untuk melakukan penilaian dan pelatihan untuk para guru.

"Saya minta juga kepada pejabat eselon satu kami pokoknya jangan malu-malu bersahabat dengan KPK jangan takut, KPK itu tujuannya bagus kok," ujarnya.

Berikutnya, Nasaruddin mengatakan Kemenag juga melakukan e-learning ASN berintegritas bersama KPK. Dia menyebut ada 42.000 ASN yang telah mengikuti e-learning itu.

"Instansi yang paling besar di republik ini adalah Kementerian Agama. Ya ASN-nya itu 254.000 orang dengan satkernya hampir 4.000," ujarnya.

Dia mengatakan Kemenag belum sepenuhnya bersih. Namun, katanya, upaya bersih-bersih terus dilakukan.

"Persentase secara total capaian pembersihan di Kementerian Agama ya memang belum sepenuhnya bersih, tetapi dilihat dari segi persentase dilihat dari jumlah populasi pegawainya alhamdulillah Kementerian Agama banyak sekali mengalami peningkatan," ujarnya.

Dia kemudian membahas soal keterbukaan yang diterapkan terhadap pesantren. Salah satunya, kata Nasaruddin, Kemenag membuka layanan pengaduan bagi santri.

"Komitmen kami membukakan kanal bersuara bagi santri dan pesantren didik. Semangat keberanian yang sama kita perlukan untuk melaporkan pelanggaran apa pun di pesantren," ujarnya.

Dia mengatakan pesantren kini lebih terbuka dan bisa diawasi. Dia menyebut ponpes terus melakukan pembenahan.

"Kita menerapkan sistem keterbukaan di pondok pesantren. Dulu tata tertib di pondok pesantren itu hanya mengatur santri. Sekarang tata tertib di pondok pesantren harus mengatur pembina, kiai juga harus dipotret kalau bermasalah maka itu muncul," ujarnya.

"Dulu kan tidak terbuka, didiamin, pamali, sakral, kiai apalagi ya, tapi kita mencairkan," sambungnya.

Dia mengatakan Kemenag telah membentuk majelis yang akan mengawasi Ponpes. Dia mengatakan integritas harus dikawal.

Nasaruddin juga memuji Itjen Kemenag dalam melakukan pengawasan internal. Dia mengajak masyarakat ikut mengawasi dan mendukung agar pendidikan menjadi tempat tumbuhnya integritas.

"Mari kita jadikan pendidikan sebagai tempat tumbuhnya cinta kejujuran keberanian dan integritas. Sebab pada akhirnya pendidikan antikorupsi bukan hanya tentang mengajarkan apa yang salah dan yang benar. Pendidikan antikorupsi adalah tentang membangun lingkungan yang membuat kejujuran menjadi kebiasaan dan integritas menjadi budaya," ujar Nasaruddin.