NADIKABAR.COM — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong para santri untuk tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya.

"Kalau dalam masa penjajahan, masa perjuangan fisik, yang lahir adalah para jenderal, tapi dalam suasana damai seperti sekarang ini, yang harusnya lahir banyak adalah para profesor, para kiai-kiai besar," ujar Menag saat Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Menag mengatakan perubahan zaman menuntut pesantren untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.

Ia mencontohkan Baitul Hikmah sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pesantren di Indonesia.

Baitul Hikmah yang didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan dikembangkan pada masa Khalifah Al-Ma'mun menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Menurut Menag, tradisi keilmuan di Baitul Hikmah menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat berkembang menjadi pusat penguasaan berbagai disiplin ilmu, termasuk melalui kolaborasi ilmuwan lintas agama.

Menurut dia, kemampuan menguasai berbagai disiplin ilmu tersebut menjadi teladan bagi generasi santri agar tidak membatasi diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan.

"Kita ingin juga nanti santri-santri kita itu seperti yang pernah dicetak di Baitul Hikmah," katanya.

Menag menegaskan pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul karena selama ini tidak hanya mendidik santri dalam aspek keilmuan, tetapi juga membentuk karakter, keimanan, dan akhlak.

Karena itu, ia mengajak seluruh pengelola pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar santri mampu menghadapi perkembangan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara.