Ia mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam bidang optika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran.

Selain itu, Ibnu Rusyd sebagai sosok ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.

Menurut Menag, keunggulan para ilmuwan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi hanya pada satu bidang keilmuan.

Ia juga menyoroti keterbukaan tradisi pendidikan di Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lainnya dalam satu lingkungan pembelajaran dan penelitian.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.