NADIKABAR.COM — Abdil Majid Rahman tak mampu menyembunyikan kegugupan saat hendak memberikan keterangan kepada awak media seusai berlaga pada final nomor Nagoya City General Gymnasium, Nagoya, Jepang.
Atlet para renang itu menundukkan kepala, terdiam selama beberapa detik, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk merangkai kata-kata.
Tak lama kemudian, ia kembali mengangkat wajah dan menatap lensa kamera ANTARA yang mengabadikan momen bersejarah dalam perjalanan kariernya sebagai atlet para renang Indonesia.
"Maaf mas, saya agak gugup," kata Abdil sambil tersenyum tipis.
Senyum itu menyiratkan sesuatu yang sederhana sekaligus mengharukan.
Di balik ketenangannya di lintasan kolam, ternyata ada rasa canggung ketika harus berhadapan dengan sorotan kamera dan pertanyaan wartawan.
Abdil mengakui, dirinya belum terbiasa berdiri di hadapan awak media, terlebih dalam sebuah pesta olahraga internasional yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai negara Asia.
Namun, hari itu, keadaan berubah. Pemuda yang mungkin sebelumnya tak banyak dikenal publik tersebut mendadak menjadi pusat perhatian.
Bukan karena kegugupannya, melainkan karena prestasi luar biasa yang baru saja ditorehkan dengan meraih emas untuk Indonesia di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026.
Di lintasan kolam, Abdil menunjukkan keberanian yang berbeda. Ia mengayunkan tangan, menggerakkan tubuh, dan membelah air dengan tekad yang tak surut hingga menyentuh garis finis terdepan.
Catatan waktu 1 menit 20,26 detik mengantarkannya meraih medali emas nomor 100 meter gaya dada putra SB7, sekaligus menempatkan namanya di antara para juara yang mengharumkan Merah Putih di panggung olahraga Asia.
Persaingan yang dihadapinya bukan perkara mudah. Perenang-perenang dari China, Malaysia, Kazakhstan, Vietnam, dan Filipina turut meramaikan perlombaan yang berlangsung ketat tersebut,
Namun, di tengah tekanan dan persaingan yang menguras tenaga, Abdil mampu menjaga ritme, mempertahankan kecepatannya, dan menuntaskan perlombaan dengan hasil yang nyaris sulit dipercaya.
Kemenangan itu bahkan ditentukan oleh selisih yang begitu tipis. Abdil mengungguli Zhang Yilong hanya dengan keunggulan 0,01 detik.
Dalam hitungan waktu yang nyaris tak terlihat, kerja keras, ketahanan, dan keberaniannya menemukan puncaknya. Emas pun menjadi milik Merah Putih.
Di balik kalimat singkat itu, tersimpan ketegangan yang mungkin masih membekas setelah pertarungan sengit di dalam kolam.
Dari seorang pemuda yang gugup saat berbicara di depan kamera, Abdil telah menjelma menjadi sosok yang berani menghadapi persaingan para atlet terbaik Asia.