Di hadapan para mahasiswa, Fadli Zon mengingatkan kembali panjangnya sejarah hubungan Indonesia dengan Mesir dan Al-Azhar. Menurutnya, hubungan tersebut telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.
Para ulama dan pelajar dari Nusantara telah datang ke Mesir untuk menuntut ilmu dan kemudian membawa pulang pengetahuan tersebut ke Indonesia.
"Hubungan Indonesia dengan Al-Azhar sudah berlangsung sangat lama. Para ulama dan pelajar Indonesia datang ke sini, belajar, kemudian kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi besar dalam pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kebudayaan," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan kedua negara kemudian terus berkembang melalui berbagai momentum sejarah, termasuk Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok.
Ia mengajak para mahasiswa untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai pembelajar bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir. Menurutnya, penguasaan bahasa Indonesia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Indonesia secara lebih mendalam.
"Pelajari Indonesia dengan sungguh-sungguh. Kenali bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaannya. Karena setiap kali saudara menggunakan bahasa Indonesia dan berbicara tentang Indonesia, sesungguhnya saudara sedang menjadi bagian dari jembatan yang menghubungkan masyarakat Mesir dan Indonesia," ujar Fadli Zon.
Ia berharap hubungan yang telah terjalin antara Indonesia dan Al-Azhar selama lebih dari satu abad dapat terus berkembang melalui generasi muda.
"Terima kasih kepada Al-Azhar dan kepada seluruh mahasiswa yang telah memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia. Kami menitipkan bahasa Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada saudara-saudara semua," tutup Fadli.